Ulin Nuha: Qouluzzur Bukan Hanya Ucapan, Tapi Juga Jejak Jari Di Era Digital
|
Demak – Ketua Bawaslu Kabupaten Demak, Ulin Nuha, menjadi narasumber dalam program Posonan episode Ngabuburit Pengawasan bertema “Qouluzzur Musuh Demokrasi dan Orang yang Berpuasa”, Jumat (27/2/2026). Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa qouluzzur atau perkataan dusta tidak hanya terbatas pada ucapan lisan.
Menurut Ulin, di era digital saat ini justru “jari” lebih banyak berbicara dibandingkan lisan. Penyebaran informasi yang tidak benar melalui media sosial dapat menimbulkan dampak serius, mulai dari perpecahan hingga potensi kerusuhan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
“Jarimu harimaumu,” tutur Ulin mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam bermedia sosial.
Tayangan Ngabuburit Pengawasan hari kedua ini dikemas dengan format podcast berbeda dari sebelumnya. Konsep tersebut dipilih agar penyampaian pesan tidak monoton dan lebih menarik bagi masyarakat, khususnya generasi muda, sehingga nilai moral menjaga demokrasi sekaligus kesucian ibadah puasa dapat tersampaikan dengan baik.
Baca juga : Bawaslu Demak Bahas Islam Dan Demokrasi Dalam Ngabuburit Pengawasan
Ulin juga mengingatkan masyarakat, terutama generasi Z yang kesehariannya tidak lepas dari gawai, agar tidak mudah melakukan forward atau membagikan informasi tanpa verifikasi. Ia membagikan beberapa tips agar tidak terjebak dalam qouluzzur, antara lain memastikan sumber berita berasal dari media resmi, membaca informasi secara utuh, mencari pembanding, memperhatikan tanggal publikasi, serta tidak asal membagikan informasi.
“Saring sebelum sharing,” tegasnya.
Melalui kegiatan edukatif ini, Bawaslu Kabupaten Demak berharap masyarakat semakin sadar pentingnya menjaga kualitas informasi, karena menjaga lisan dan jari dari dusta bukan hanya bagian dari ibadah puasa, tetapi juga fondasi menjaga demokrasi yang sehat.
Penulis: Mudlo'af
Foto : Moh. Hamdan
Editor : Humas BawasluJepara