Lompat ke isi utama

Berita

Ulin Nuha: Ketidakpedulian adalah Penyakit yang Melemahkan Kedaulatan Rakyat

kutipan

Unggahan grafis kuotasi kutipan tokoh perjuangan Depati Amir di akun resmi media sosial Bawaslu Kabupaten Demak, Senin (5/10/2026)

Demak – Ketidakpedulian terhadap kehidupan bangsa dan demokrasi dapat menjadi penyakit yang perlahan melemahkan kedaulatan rakyat. Ketika masyarakat memilih diam dan tidak peduli terhadap persoalan di sekitarnya, ruang bagi praktik-praktik yang merusak demokrasi justru semakin terbuka.

Hal tersebut disampaikan Ketua Bawaslu Kabupaten Demak, Ulin Nuha, saat merefleksikan kutipan tokoh perjuangan Depati Amir: “Berani melawan pihak yang ingin membinasakan negeri selama masih memiliki jiwa,” Senin (5/10/2026).

Menurut Ulin, kutipan tersebut mengandung pesan penting bahwa keberanian untuk menjaga negeri berawal dari adanya kepedulian. Seseorang yang masih memiliki kepedulian terhadap bangsanya tidak akan mudah memilih diam ketika melihat ketidakbenaran atau praktik yang berpotensi merusak kehidupan demokrasi.

“Ketidakpedulian adalah penyakit yang dapat melemahkan kedaulatan rakyat. Ketika masyarakat tidak lagi peduli terhadap bangsanya, keberanian untuk menyuarakan kebenaran dan menolak praktik-praktik yang merusak demokrasi juga akan semakin hilang,” tegas Ulin.

Ia menambahkan, demokrasi tidak cukup hanya dibangun melalui penyelenggaraan Pemilu. Demokrasi membutuhkan masyarakat yang memiliki kesadaran untuk menjaga prosesnya. Kedaulatan rakyat akan kuat apabila rakyat tidak menyerahkan sepenuhnya urusan demokrasi kepada negara atau lembaga penyelenggara, tetapi ikut mengambil bagian dalam mengawasinya.

Dalam konteks pengawasan Pemilu, kepedulian masyarakat menjadi salah satu kekuatan penting. Masyarakat dapat berperan dengan mengawasi lingkungan sekitarnya, menyampaikan informasi yang benar, menolak politik uang, tidak mudah terpengaruh hoaks, serta berani melaporkan dugaan pelanggaran Pemilu melalui mekanisme yang tersedia.

“Keberanian hari ini tidak selalu berarti mengangkat senjata. Keberanian dalam demokrasi adalah berani berkata benar, berani menolak politik uang, berani tidak menyebarkan hoaks, dan berani menyampaikan ketika melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan prinsip demokrasi,” ujarnya.

Ulin menilai, pesan Depati Amir tersebut tetap relevan dalam kehidupan demokrasi saat ini. Perjuangan menjaga negeri telah berubah bentuk. Jika dahulu keberanian diwujudkan melalui perjuangan melawan penjajahan, maka dalam kehidupan demokrasi keberanian dapat diwujudkan melalui kepedulian, partisipasi, pengawasan, dan keberanian mempertahankan nilai-nilai demokrasi.

Karena itu, ia  berharap masyarakat tidak menjadi penonton dalam kehidupan demokrasi. Menurutnya, masyarakat yang peduli adalah masyarakat yang memiliki daya untuk menjaga kedaulatannya sendiri.

Penulis : Mudlo'af 

Foto: Moh Hasan Saeful Rijal

Editor : Heni Ernawati